Cinta itu adalah api yang murni dan bersinar-sinar. Saat kita mengikuti jalur cinta, kita menemukan bahwa kehidupan spiritual kita, kehidupan batin kita, paling terpuaskan. Tidak ada apa pun yang bisa lebih besar daripada cinta.
Cinta adalah kehidupan, dan kehidupan itu sendiri bagaikan minuman para dewa dan kegembiraan spontan. Jika cinta berarti memiliki seseorang atau sesuatu, maka itu bukan cinta sejati; itu bukan cinta murni. Jika cinta berarti memberi dan menjadi satu dengan segalanya., dengan manusia dan Yang Maha Kuasa, maka itulah cinta sejati. Cinta sejati adalah kesatuan total kita dengan obyek yang dicintai dan dengan pemilik cinta. Siapakah pemilik cinta? Tuhan.
Siapa yang kita cintai? Kita mencintai Yang Maha Kuasa di dalam masing-masing individu. Jika kita mencintai tubuh, kita mengikat diri kita sendiri; jika kita mencintai jiwa, kita membebaskan diri kita. Yang harus kita cintai adalah jiwa masing-masing individu, sisi Yang Maha Kuasa di dalam diri setiap manusia.
Anda bisa secara sadar memberikan cinta murni kepada orang lain jika Anda merasa bahwa Anda memberikan sebagian dari napas hidup Anda saat Anda bicara dengan mereka atau memikirkan mereka. Napas hidup ini Anda berikan hanya karena Anda merasa bahwa Anda dan seisi dunia benar-benar menyatu total, tak terpisahkan. Jika ada kesatuan, semuanya adalah cinta murni.
Jalur Hati
Kasih suci adalah cara tercepat untuk menyadari Yang Maha Kuasa. Benak kita telah memainkan perannya. Sekarang dunia ini menangis karena menginginkan kekayaan hati, yakni cinta. Jika kita mengikuti jalur hati, kita pasti menyadari bahwa jauh di lubuk hati, jiwa bersemayam. Memang benar, cahaya jiwa merembes ke sekujur tubuh, namun ada suatu tempat spesifik di mana jiwa bersemayam sebagian besar waktu, dan tempat itu adalah hati. Hati spiritual terletak di tengah dada. Jika kita ingin menciptakan akses bebas kepada jiwa kita, kita harus memfokuskan perhatian dan konsentrasi kita kepada hati. Inilah pusat cinta dan kesatuan murni.
Anda bisa mencapai hati spiritual ini melalui konsentrasi dan meditasi. Jika Anda ingin melakukan tindakan ini, setiap hari selama beberapa menit, seharusnya Anda berkonsentrasi kepada hati dan bukan ke tempat lain. Anda harus merasa bahwa Anda tidak punya kepala, Anda tidak punya kaki, Anda tidak punya lengan; Anda hanya punya hati. Jika Anda terus berpikir menggunakan benak, kehidupan bisa tampak seperti sepotong kayu kering. Namun jika Anda terus berada di dalam hati, kehidupan bisa diubah menjadi lautan cinta dan kegembiraan murni. Jika Anda bisa menjaga kesadaran diri Anda di dalam hati, lambat laun Anda akan mulai mengalami perasaan persatuan spontan. Setelah Anda mengolah tanah spiritual hati, Anda akan menemukan bahwa di sana bertumbuh cinta spontan terhadap Tuhan dan kesatuan spontan dengan ciptaan Tuhan.
Ramesh dan Gopal
Dahulu kala, ada seorang lelaki bernama Ramesh, yang merupakan murid yang sangat baik. Orang tuanya bukan hanya kaya, namun juga luar biasa baik.
Di sekolah, murid-murid sering membawa makanan dari rumah untuk dimakan selama jam makan siang. Suatu hari, Ramesh menyadari bahwa temannya Gopal tidak makan apa-apa saat jam makan siang selama beberapa hari. Ramesh menghampiri temannya dan bertanya mengapa ia tidak membawa makanan apa pun. Gopal menjawab, “Ibuku tak bisa memberikan makanan apa pun. Katanya kami tidak punya makanan di rumah”.
Ramesh berkata, “Jangan khawatir. Aku akan berbagi makananku denganmu.”
“Tidak, aku tak bisa mengambil makananmu,” sahut Gopal.
“Tentu saja bisa, “Ramesh bersikeras. “Orang tuaku memberikan jauh lebih banyak makanan daripada yang kuperlukan.” Akhirnya, Gopal setuju, dan selama beberapa minggu, kedua anak lelaki itu berbagi makan siang Ramesh.
Suatu hari, Gopal berhenti datang ke sekolah. Ramesh merasa cemas. Ketika ia bertanya kepada gurunya mengapa temannya tidak datang ke sekolah lagi, gurunya memberitahu, “Dia berasal dari keluarga miskin. Orangtuanya tak sanggup membayar uang sekolah. Karena itu, dia tak bisa datang ke sekolah lagi.”
Ramesh merasa sedih terhadap temannya. Setelah sekolah usai, ia mencatat alamat Gopal dari gurunya dan pergi ke rumah Gopal. Ramesh memohon agar temannya bersekolah kembali, dan mengatakan bahwa ia akan meminta orangtuanya untuk membayar uang sekolah. Orangtua Gopal sangat tergugah oleh kebaikan hari Ramesh, dan Gopal sekali lagi mulai bersekolah.
Ayah Gopal adalah pria tua. Beberapa tahun kemudian, ia meninggal. Keluarga itu menjadi benar-benar miskin total, dan Ramesh menyokong mereka dengan uangnya sendiri. Ketika saudara perempuan Gopal terserang penyakit akut, keluarganya tidak sanggup membayar tagihan rumah sakit. Sekali lagi Ramesh membantu mereka. Dalam artian apa pun, Ramesh adalah teman dan wali keluarga Gopal.
Baik Ramesh maupun Gopal lulus dari SMU dan melanjutkan ke college. Suatu hari, Gopal berkata kepada Ramesh, “Jika kukatakan bahwa hatiku sangat penuh ucapan syukur kepadamu, maka pernyataan itu adalah eufimisme. Aku menyayangimu lebih daripada aku menyayangi nyawaku sendiri.”
Ramesh menjawab, “Temanku jika kau menyayangiku, itu lebih dari cukup untukku. Kau tidak perlu menyayangiku lebih daripada menyayangi nyawamu sendiri.”
Gopal berkata, “Tetapi aku sungguh-sungguh, dan aku ingin membuktikannya.” Kemudian ia membuka pisau lipatnya dan mengiris tangannya sendiri. Dengan sendirinya, ia mulai berdarah. Gopal meneteskan beberapa tetes darah ke kaki Ramesh.
Ramesh berseru, “Apa yang kau lakukan, apa yang kau lakukan?” Ia menyentuh irisan di lengan Gopal dan meneteskan beberapa tetes darah di hatinya sendiri sembari berkata, “Inilah tempat yang tepat bagi darah hidupmu. Aku memberimu harta duniawiku dalam bentuk kekayaan materi. Kau memberiku cinta hatimu, kekayaan sorgawi yang tak bisa diukur sama sekali.”
BACK TO HOME
Cinta adalah kehidupan, dan kehidupan itu sendiri bagaikan minuman para dewa dan kegembiraan spontan. Jika cinta berarti memiliki seseorang atau sesuatu, maka itu bukan cinta sejati; itu bukan cinta murni. Jika cinta berarti memberi dan menjadi satu dengan segalanya., dengan manusia dan Yang Maha Kuasa, maka itulah cinta sejati. Cinta sejati adalah kesatuan total kita dengan obyek yang dicintai dan dengan pemilik cinta. Siapakah pemilik cinta? Tuhan.
Siapa yang kita cintai? Kita mencintai Yang Maha Kuasa di dalam masing-masing individu. Jika kita mencintai tubuh, kita mengikat diri kita sendiri; jika kita mencintai jiwa, kita membebaskan diri kita. Yang harus kita cintai adalah jiwa masing-masing individu, sisi Yang Maha Kuasa di dalam diri setiap manusia.
Anda bisa secara sadar memberikan cinta murni kepada orang lain jika Anda merasa bahwa Anda memberikan sebagian dari napas hidup Anda saat Anda bicara dengan mereka atau memikirkan mereka. Napas hidup ini Anda berikan hanya karena Anda merasa bahwa Anda dan seisi dunia benar-benar menyatu total, tak terpisahkan. Jika ada kesatuan, semuanya adalah cinta murni.
Jalur Hati
Kasih suci adalah cara tercepat untuk menyadari Yang Maha Kuasa. Benak kita telah memainkan perannya. Sekarang dunia ini menangis karena menginginkan kekayaan hati, yakni cinta. Jika kita mengikuti jalur hati, kita pasti menyadari bahwa jauh di lubuk hati, jiwa bersemayam. Memang benar, cahaya jiwa merembes ke sekujur tubuh, namun ada suatu tempat spesifik di mana jiwa bersemayam sebagian besar waktu, dan tempat itu adalah hati. Hati spiritual terletak di tengah dada. Jika kita ingin menciptakan akses bebas kepada jiwa kita, kita harus memfokuskan perhatian dan konsentrasi kita kepada hati. Inilah pusat cinta dan kesatuan murni.
Anda bisa mencapai hati spiritual ini melalui konsentrasi dan meditasi. Jika Anda ingin melakukan tindakan ini, setiap hari selama beberapa menit, seharusnya Anda berkonsentrasi kepada hati dan bukan ke tempat lain. Anda harus merasa bahwa Anda tidak punya kepala, Anda tidak punya kaki, Anda tidak punya lengan; Anda hanya punya hati. Jika Anda terus berpikir menggunakan benak, kehidupan bisa tampak seperti sepotong kayu kering. Namun jika Anda terus berada di dalam hati, kehidupan bisa diubah menjadi lautan cinta dan kegembiraan murni. Jika Anda bisa menjaga kesadaran diri Anda di dalam hati, lambat laun Anda akan mulai mengalami perasaan persatuan spontan. Setelah Anda mengolah tanah spiritual hati, Anda akan menemukan bahwa di sana bertumbuh cinta spontan terhadap Tuhan dan kesatuan spontan dengan ciptaan Tuhan.
Ramesh dan Gopal
Dahulu kala, ada seorang lelaki bernama Ramesh, yang merupakan murid yang sangat baik. Orang tuanya bukan hanya kaya, namun juga luar biasa baik.
Di sekolah, murid-murid sering membawa makanan dari rumah untuk dimakan selama jam makan siang. Suatu hari, Ramesh menyadari bahwa temannya Gopal tidak makan apa-apa saat jam makan siang selama beberapa hari. Ramesh menghampiri temannya dan bertanya mengapa ia tidak membawa makanan apa pun. Gopal menjawab, “Ibuku tak bisa memberikan makanan apa pun. Katanya kami tidak punya makanan di rumah”.
Ramesh berkata, “Jangan khawatir. Aku akan berbagi makananku denganmu.”
“Tidak, aku tak bisa mengambil makananmu,” sahut Gopal.
“Tentu saja bisa, “Ramesh bersikeras. “Orang tuaku memberikan jauh lebih banyak makanan daripada yang kuperlukan.” Akhirnya, Gopal setuju, dan selama beberapa minggu, kedua anak lelaki itu berbagi makan siang Ramesh.
Suatu hari, Gopal berhenti datang ke sekolah. Ramesh merasa cemas. Ketika ia bertanya kepada gurunya mengapa temannya tidak datang ke sekolah lagi, gurunya memberitahu, “Dia berasal dari keluarga miskin. Orangtuanya tak sanggup membayar uang sekolah. Karena itu, dia tak bisa datang ke sekolah lagi.”
Ramesh merasa sedih terhadap temannya. Setelah sekolah usai, ia mencatat alamat Gopal dari gurunya dan pergi ke rumah Gopal. Ramesh memohon agar temannya bersekolah kembali, dan mengatakan bahwa ia akan meminta orangtuanya untuk membayar uang sekolah. Orangtua Gopal sangat tergugah oleh kebaikan hari Ramesh, dan Gopal sekali lagi mulai bersekolah.
Ayah Gopal adalah pria tua. Beberapa tahun kemudian, ia meninggal. Keluarga itu menjadi benar-benar miskin total, dan Ramesh menyokong mereka dengan uangnya sendiri. Ketika saudara perempuan Gopal terserang penyakit akut, keluarganya tidak sanggup membayar tagihan rumah sakit. Sekali lagi Ramesh membantu mereka. Dalam artian apa pun, Ramesh adalah teman dan wali keluarga Gopal.
Baik Ramesh maupun Gopal lulus dari SMU dan melanjutkan ke college. Suatu hari, Gopal berkata kepada Ramesh, “Jika kukatakan bahwa hatiku sangat penuh ucapan syukur kepadamu, maka pernyataan itu adalah eufimisme. Aku menyayangimu lebih daripada aku menyayangi nyawaku sendiri.”
Ramesh menjawab, “Temanku jika kau menyayangiku, itu lebih dari cukup untukku. Kau tidak perlu menyayangiku lebih daripada menyayangi nyawamu sendiri.”
Gopal berkata, “Tetapi aku sungguh-sungguh, dan aku ingin membuktikannya.” Kemudian ia membuka pisau lipatnya dan mengiris tangannya sendiri. Dengan sendirinya, ia mulai berdarah. Gopal meneteskan beberapa tetes darah ke kaki Ramesh.
Ramesh berseru, “Apa yang kau lakukan, apa yang kau lakukan?” Ia menyentuh irisan di lengan Gopal dan meneteskan beberapa tetes darah di hatinya sendiri sembari berkata, “Inilah tempat yang tepat bagi darah hidupmu. Aku memberimu harta duniawiku dalam bentuk kekayaan materi. Kau memberiku cinta hatimu, kekayaan sorgawi yang tak bisa diukur sama sekali.”
BACK TO HOME



0 comments:
Poskan Komentar